Senin, 13 April 2020
Minggu, 05 April 2020
KHALIFAH DINASTI BANI ABBASIYAH
Dinasti Abbasiyah yang berkuasa lebih dari lima abad (750-1258)
secara umum dibagi atas empat periode. Keempat periode tersebut adalah Periode
Awal (750-847), Periode Lanjutan (847-945), Periode Buwaihi (945-1055), dan
Periode Seljuk (1055-1258).
Selama
lima abad pemerintahan Islam Dinasti Abbasiyah ini, tercatat sejumlah nama
khalifah yang berhasil menegakkan sistem pemerintahan Islam dengan adil dan makmur.
Mereka itu adalah Abu al-Abbas Abdullah bin Muhammad as-Saffah (721-754). Ia
adalah pendiri Dinasti Abbasiyah dan menjadi khalifah pertama. Berikutnya
dipimpin oleh penerusnya, seperti khalifah Abu Ja'far al-Manshur (750-775),
Al-Mahdi (775-785), Musa al-Hadi (785-786), Harun ar-Rasyid (786-809), Al-Amin
(809-813), Al-Ma'mun (813-833), Al-Mu'tasim (833-842), Al-Mutawakkil (847-861),
Al-Muntasir (861-862), Al-Musta'in (862-866), dan Al-Mu'tazz (866-869).
BAB 13. PERTUMBUHAN ILMU PENGETAHUAN PADA MASA BANI ABBASIYAH
Awal Berdirinya Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah berdiri setelah mereka berhasil menaklukkan Dinasti Umayyah. Keturunan Al-Abbas menjadi pendiri dinasti Abbasiyah, yaitu Abdullah al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin al-Abbas. Kelompok Abbasiyah merasa lebih layak memegang tonggak kekuasaan daripada Bani Umayyah karena mereka berasal dari Bani Hasyim yang lebih dekat garis keturunannya dengan Nabi Muhammad. Saat itulah sejarah runtuhnya bani Umayyah. Sejarah berdirinya dinasti Abbasiyah tidak dapat dilepaskan dari peperangan yang berdarah dan bergejolak. Pada awalnya, cicit dari Abbas bernama Muhammad bin Ali berkampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi ketika Umar bin Abdul Aziz masih memerintah. Pertentangan semakin memuncak pada masa pemerintahan khalifah Marwan II. Menjelang berakhirnya dinasti Umayyah, ada kelompok dari Bani Hasyim yang teraniaya sehingga melakukan perlawanan. Kelompok Bani Hasyim keturunan Ali dipimpin oleh Abu Salamah dan keturunan Abbas dipimpin oleh Ibrahim Al- Iman. Selain itu juga ikut kelompok keturunan bangsa Persia, pimpinan Abu Musli al-Khurasany bekerja sama menaklukkan dinasti Umayyah. Pada akhirnya kaum Abbasiyah berhasil menaklukkan pemimpin terakhir Umayyah, yaitu Marwan bin Muhammad. Abu Abbas al-Saffah berhasil meruntuhkan Bani Umayyah dan diangkat sebagai khalifah. Selama tiga abad bani Abbasiyah memegang kekuasaan kekhalifahan, mengusung kepemimpinan gaya Islam dan menyuburkan kembali ilmu pengetahuan dan pengembangan budaya di Timur Tengah.
Masa Kejayaan Dinasti Abbasiyah
Sejarah berdirinya dinasti Abbasiyah memasuki masa kejayaannya dengan menerapkan pola pemerintahan yang berbeda – beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya. Pusat pemerintahan saat itu terletak di Kuffah. Kepemimpinan kemudian digantikan oleh Abu Jafar al-Mansur mulai 750 – 775 M, saudara dari Abu Abbas. Ia membangun kota baru yang diberi nama Baghdad, dimana terdapat istana bernama Madinat as-Salam. Pada periode awal sekitar 750 – 847 M, kegiatan perluasan wilayah masih diutamakan dinasti Abbasiyah dan membuat pondasi sistem pemerintahan yang akan menjadi panduan bagi kepemimpinan selanjutnya. Setelah Abu Jafar, Abbasiyah dipimpin oleh Harun al-Rasyid mulai 789 – 809 M. Ia mendirikan perpustakaan terbesar pada zamannya bernama Baitul Hikmah, sehingga orang – orang terpelajar dari kalangan Barat dan Muslim datang ke Baghdad untuk mendalami ilmu pengetahuan. Setelah itu Abbasiyah dipimpin oleh al-Amin dan al-Makmun al-Rasyid, putra Harun al-Rasyid. Al Makmun memimpin sejak 813 – 833 M dan memperluas Baitul Hikmah menjadi akademi ilmu pengetahuan pertama di dunia. Ia juga mendirikan Majalis al-Munazharah yang mengadakan pengajian di rumah, masjid dan istana khalifah, dan menjadi tanda akan bangkitnya kekuatan penuh dari Timur dengan Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan puncak keemasan Islam. Pada masa ini juga banyak diterjemahkan buku – buku karya kuno dari Yunani dan Syria kuno ke dalam bahasa Arab. Paham Muktazilah dianut al-Makmun sebagai mazhab negara, yaitu menggunakan akal sebagai dasar untuk memahami dan menyelesaikan persoalan teologi, yang merintis pembahasan teologi Islam secara detil dan filosofis sehingga muncul filsafat Islam.
Selanjutnya dalam sejarah berdirinya dinasti Abbasiyah dipimpin oleh Khalifah al-Mutawakkil mulai 847 – 861 M. Ia berbeda dengan khalifah sebelumnya karena lebih cenderung ke cara berpikir ahlun sunnah. Dalam sejarah berdirinya dinasti Abbasiyah, ia hidup pada satu zaman dengan para tokoh besar Islam seperti Abdul Malik bin Habib (imam Mazhab Maliki), Abdul Azis bin Yahya al-Ghul(murid Imam Syafi’i), Abu Utsman bin Manzini (pakar ilmu nahwu) dan Ibnu Kullab, seorang tokoh dalam bidang ilmu kalam. Terjadi perselisihan mengenai penerus kekhalifahan setelah al-Mutawakkil karena sebelum dirinya wafat, ia hendak menurunkan mandat kepada anak – anaknya yaitu al-Muntashir, al-Mu’taz dan al-Muayyad. Tetapi ia kemudian mengubah susunan penerusnya menjadi al-Mu’taz lebih dulu , namun al- Muntashir tidak menerimanya.
Akibatnya posisi al-Muntashir langsung diturunkan dengan paksa, bersamaan dengan berlangsungnya ketidak senangan orang – orang Turki kepada al-Mutawakkil karena beberapa sebab. Al-Muntashir dan orang – orang Turki kemudian sepakat untuk membunuh al-Mutawakkil. Setelah ayahnya dibunuh, al-Muntashir menjadi pemimpin khalifah namun hanya selama enam bulan karena ia justru berbalik menjelekkan orang Turki dan dibunuh oleh mereka. Sejarah berdirinya dinasti Abbasiyah kemudian mengalami kemunduran sejak saat itu. Banyak pula faktor lain yang mempengaruhinya karena kurangnya perhatian pada persoalan politik, seperti pemisahan diri Afrika Utara untuk membentuk pemerintahan merdeka bernama Kekhalifahan Fathimiyah. Para gubernur di berbagai propinsi seperti dinasti Samaniyah mulai bertindak lebih bebas, dan para jenderal Turki di pasukan Abbasiyah juga semakin lama semakin sulit dikendalikan oleh para khalifah. Kesulitan komunikasi antara pusat pemerintahan sulit dilakukan pada masa itu karena wilayah kekuasaan yang sangat luas, bahkan tingkat kepercayaan antara penguasa dan para pelaksana pemerintahan sangat rendah. Begitu juga keuangan negara yang sulit karena negara perlu mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk angkatan bersenjata. Pemisahan – pemisahan wilayah pun mulai terjadi, sebagian besar karena perbedaan cara mengelola daerah kekuasaan yang berbeda dengan Bani Umayyah.
Pada masa Bani Umayyah, wilayah kekuasaannya tetap sejajar dengan batas – batas wilayah kekuasaan Islam. Namun pada masa pemerintahan Abbasiyah, kekuasaan mereka tidak pernah diakui di Spanyol dan seluruh Afrika Utara kecuali sebagian kecil Mesir. Dalam kenyataannya banyak wilayah berada dalam kekuasaan khalifah hanya dalam bentuk pengiriman upeti pajak dari gubernurnya masing – masing. Pada saat kekhalifahan Abbasiyah mulai menunjukkan kemunduran, propinsi – propinsi tersebut mulai melepaskan diri dan tidak lagi membayar pajak, bahkan berusaha menguasai kekhalifahan itu sendiri. Sejarah perang uhud juga terjadi setelah kekhalifahan abbasiyah selesai, dan menjadikan kekuasaan bercampur tangan serta menimpulkan berbagai perang seperti dalam sejarah perang badar.
TOKOH CENDIKIAWAN MUSLIM
PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN
ISLAM
PADA MASA
DAULAH BANI ABBASIYAH
NO.
|
NAMA TOKOH
|
BIDANG ILMU
|
KARYA
|
1.
|
IBNU SINA
( Abu Al-Husain bin Abdullah )
|
Ilmu Kedokteran
Ilmu Filsafat
|
1.
Asy-Syifa
2.
Al-Qanun fi at-tibb
3.
Al-Isyarat wa at-tanbihat
|
2.
|
AL-GAZALI
( Abu Hamid Muhammad bin Muhammad at-Tusi
al-Gazali )
|
Ilmu Teologi
Ilmu Filsafat
Ilmu Tasawuf
Ilmu Akhlak
|
1.
Ihya’ Ulumuddin
2.
Maqasid Al-Falasifah
3.
Tafahut Al-Falasifah
4.
Al-Munqiz min ad-Dalal
|
3.
|
Jabir bin Hayyan
|
Ilmu Kimia
Ilmu Matematika
Ilmu Kedokteran
Ilmu Fisika
|
1.
At-Tajmi’
2.
Az-Zi’biq asy-syarqiy
|
4.
|
IBNU MASKAWIH
( Abu Ali Ahmad bin Muhammad bin Ya’kub bin
Maskawih )
|
Ilmu Sejarah
Ilmu Filsafat
Ilmu Kimia
|
1.
Al-Fauz Al-Akbar
2.
Al-Fauz Al-Asghar
3.
Tajarib Al-Usman
4.
Tahzib Al-Akhlaq
5.
Jawidan Khirad |
TOKOH ILMUAN MUSLIM PADA MASA BANI ABBASYIAH
1.
Ibnu Sina (370 H – 428 H / 980 M – 1037 M)
Abu Ali Al-Husaini bin
Abdullah bin Sina (Ibnu Sina) adalah seorang ahli kedokteran Muslim. Ia
dilahirkan di Bukhara 370 H/980 M. Beliaau dibesarkan di lembah Sungah Daljah
dan Furat, tepi selatan Laut Kaspia, kawasan Bukhara. Di sana ia banyak belajar
ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Ia mendalami filsafat, biologi dan kedokteran.
Pada
usia 17 tahun, ia telah emmahami seluruh teori kedokteran melebihi sipa pun. Ibnu
sina diangkat menjadi penasihat para dokter yang praktik pada masa itu. Ia
dikenal sebagai Bapak Kedokteran Dunia. Bukunya yang terkenal adalah Qanun fi Al-Thibb (Dasar-Dasar Ilmu
Kedokteran). Ia juga menulis buku berjudul Asy-Syifa' dan An-Najat.
2.
Al-Farabi (870 M – 950 M)
Abu
Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzlagh al-Farabi dilahirkan di Farab
dan meninggal di Aleppo. Pada masa kecil, ia dikenal sebagai anak yang cerdas.
Ia banyak belajar ilmu agama, bahasa Arab, Turki dan Persia. Ia berpindah di
Bagdad selama 20 tahun. Berikutnya pindah ke Haran untuk belajar filsafat
Yunani kepada beberapa orang ahli seperti Yuhana bin Hailan.
Ia
menguasai 70 bahasa, sehingga ia menguasai banyak ilmu pengetahuan, yang paling
menonjol adalah ilmu mantik. Kemahirannya dalam ilmu mantik melebihi
Aristoteles. Ia kemudian dikenal sebagai guru kedua dalam ilmu filsafat.
Al-Farabi memasukkan ilmu logika dalam kebudayaan Arab.
Dalam
bidang filsafat, AlFarabi lebih menitikberatkan pada persoalan kemanusiaan, seperti
akhlak, kehidupan intelektual, politik dan seni. Ia termasuk ke dalam filsuf
kemanusiaan dan berpendapat bahwa antara filsafat dan agama tidak bertentangan.
Langganan:
Komentar (Atom)