KERJA
KERAS, TEKUN, ULET, DAN TELITI
Kerja keras, tekun, ulet, dan teliti merupakan
empat sikap terpuji yang perlu dimiliki oleh setiap orang yang menginginkan
kesuksesan dalam hidupnya. Keempat sifat tersebut mesti dilakukan secara
integral sebab antara yang satu dengan yang lainnya saling mendukung. Berikut
ini akan dijelaskan pengerian dari masing-masing sifat tersebut.
A.
Kerja keras
Bekerja
keras adalah bekerja dengan gigih dan sungguh-sungguh untuk mencapai suatu
cita-cita. Bekerja keras tidak mesti “banting tulang” dengan mengeluarkan
tenaga secara fisik, akan tetapi sikap bekerja keras juga dapat dilakukan
dengan berpikir sungguh-sungguh dalam melaksanakan pekerjaannya. Dengan
demikian, sikap kerja keras dapat dilakukan dalam menuntut ilmu, mencari
rezeki, dan menjalankan tugas sesuai dengan profesi masing-masing. Pentingnya
bekerja keras ini tersirat dalam firman Allah surat al-Jumu’ah ayat 10:
فَإِذَا
قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ
وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya:
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan
carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Selian itu, Allah juga berfirman dalam surat at-Taubah/9 ayat 105. \
وَقُلِ
اعْمَلُواْ فَسَيَرَى اللّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا
كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya:
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mu'min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan
kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu
diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. Ayat di atas
mengajarkan bahwa kita tidak saja melakukan ibadah khusus, seperti shalat,
tetapi juga bekerja untuk mencari apa yang telah dikaruniakan Allah di muka
bumi ini. Kemudian pada surat at-Taubah di atas mengisyaratkan bahwa kita harus
berusaha sesuai dengan kemampuan maksimal kita dan hal itu akan diperhitungkan
oleh Allah SWT. Orang yang beriman dilarang bersikap malas, berpangku tangan,
dan menunggu keajaiban menghampirinya tanpa adanya usaha. Allah menciptakan
alam beserta segala isinya diperuntukkan bagi manusia. Namun, untuk memperoleh
manfaat dari alam ini, manusia harus berusaha dan bekerja keras. Rasulullah SAW
juga menganjurkan umatnya untuk bekerja keras. Beliau menegaskan bahwa makanan
yang paling baik adalah yang berasal dari hasil keringat sendiri. Sabdanya:
عَنِ
اْلمَقْدَادِ بْنِ سَعْدِ يَكْرِبَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ قَالَ مَا
أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلَِ يَدَيْهِ
وَإِنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدُ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ (رواه البخارى)
Artinya:
Tidak ada makanan yang lebih baik bagi seseorang melebihi makanan yang
berasal dari buah tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud AS makan dari hasil
tangannya sendir. Jadi semua umat Islam mesti bekerja keras dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya termasuk dalam beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Hal itu pula yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW sejak kecil hingga
akhir hayatnya. Misalnya ketika ia mengembala biri-biri serta berniaga hingga
ke negeri Syam dengan penuh semangat dan jujur. Begitu pula para sahabat
memberikan keteladanan bekerja keras, seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab,
Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan lainnya. Mereka memiliki semangat kerja
keras yang tinggi baik dalam berusaha maupun berdakwah menegakkan agama Allah.
Harta yang mereka peroleh dari usaha yang kerja keras mereka gunakan untuk
menyantuni fakir miskin dan kepentingan agama Islam. Rasulullah SAW juga
memberikan penghargaan bagi orang yang bekerja keras. Suatu ketika Nabi bertemu
dengan seorang sahabat, Sa'ad al-Anshari yang memperlihatkan tangannya yang
melepuh karena kerja keras. Nabi bertanya, "mengapa tanganmu hitam, kasar
dan melepuh?" Sa'ad menjawab, "tangan ini kupergunakan untuk mencari
nafkah bagi keluargaku." Nabi yang mulia berkata, "ini tangan yang
dicintai Allah," seraya mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu.
Bayangkanlah, Nabi yang tangannya selalu berebut untuk dicium oleh para
sahabat, kini mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh. Agar semangat kerja
keras selalu ada dalam diri, maka hendaknya kita beranggapan akan hidup
selamanya. Namun dalam hal ibadah khusus, seperti shalat, hendaknya kita
beranggapan bahwa seolah-olah kita akan mati esok hari sehingga kita bisa
beribadah dengan khusyu’. Hal ini sesuai dengan pesan Rasulullah SAW:
اِعْمَلْ
لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ اَبَدًا وَاعْمَلْ ِلآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ
غَدًا
Artinya:
“bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah engkau hidup
selama-lamanya; dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu seolah-olah engkau
akan mati esok hari”. (H.R. Ibnu Asakir).
Rasulullah
Saw juga bersabda :
Hikmah Bekerja Keras
Allah SWT memerintahkan supaya kita bekerja
keras karena banyak himah dan manfaatnya, baik bagi orang yang bekera keras
maupun terhadap lingkungannya. Di antara hikmah bekerja keras tersebut adalah
sebagai berikut: 1. Mengemangkan potensi diri, baik berupa bakat, minat,
pengetahuan, maupun keterampilan. 2. Membentuk pribadi yang bertanggung jawab
dan disiplin. 3. Mengangkat harkat martabat dirinya baik sebagai makhluk
individu maupun sebagai anggota masyarakat. 4. Meningkatkan taraf hidup orang
banyak serta meningkatkan kesejahteraan. 5. Kebutuhan hidup diri dan keluarga
terpenuhi. 6. Mampu hidup layak. 7. Sukses meraih cita-cita 8. Mendapat pahala
dari Allah, karena bekerja keras karena Allah merupakan bagian dari ibadah.
B. Tekun
Tekun artinya rajin, giat, sungguh-sungguh dan
terus-menerus dalam bekerja meskipun mengalami kesulitan, hambatan, dan
rintangan. Sifat tekun ini diwujudkan dalam semangat yang berkesinambungan dan
tidak kendur walaupun banyak rintangan yang menghadang. Sebagai seorang
pelajar, harus tekun dalam belajar. Ketekunan itu bisa diwujudkan dalam bentuk
belajar dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus. contohnya belajar setiap
malam, bukan belajar hanya ketika dekat waktu ujian. Begitu juga dalam
beribadah, kita harus senantiasa berzikir kepada Allah baik dalam keadaan
sempit maupun ketika lapang. Jika sifat tekun telah menjadi bagian diri kita,
maka kita akan terampil dan mampuni dalam bidang yang kita tekuni. Sebagai
seorang mukmin, kita harus menekuni bidang kita masing-masing. Hal ini tersirat
dalam surat al-Isra’/17 ayat 84.
قُلْ
كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى
سَبِيلاً
Artinya: Katakanlah: "Tiap-tiap orang
berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui
siapa yang lebih benar jalannya. Dengan demikian sifat tekun menjadi salah
satu modal untuk mencapai kesuksesan dalam berbagai bidang sebagaimana yang
dicita-citakan. Hal itu pula yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam
mensyi’arkan agama Islam. Ia melakukan dakwah secara terus-menerus kepada
keluarga dan masyarakat di sekitarnya agar mentauhidkan Allah SWT. Ia juga
melakukan pembinaan yang kontiniu kepada sahabat-sahabatnya untuk mempelajari
al-Qur’an dan siap berdakwah kepada orang-orang di sekitar mereka dengan cara
yang santun dan baik. Dengan kerja keras dan ketekunan mereka, Islam telah
berjaya di jazirah Arab ketika itu dan menyebar ke berbagai daerah tanpa adanya
paksaan. Sifat tekun ini dapat pula dilihat dari berbagai kisah orang-orang
terdahulu yang shaleh lagi sukses dalam menjalani kehidupannya. Salah satu di
antaranya adalah seorang ulama kenamaan yang bernama Ibnu Hajar. Awalnya dia
adalah seorang anak yang merasa bodoh. Ia sulit menerima pelajaran yang
diberikan oleh gurunya. Suatu ketika ia melihat batu kecil yang terletak di
tepi sungai. Ia mengamati batu kecil itu berlobang/lekuk. Sementara air menetas
dari atas dan jatuh tepat di lobang batu kecil tersebut. Ia pun sadar ternyata
batu yang keras itu bisa berlobang hanya karena air yang secara terus menerus
menetes, walaupun hanya setetes demi setetes. Kemudian, beliau berpikir,
meskipun ia merasa bodoh, tetapi jika belajar dengan tekun, terus-menerus,
niscaya akan menjadi pintar. Akhirnya ia belajar lebih tekun lagi sehingga ia
menjadi ulama terkemuka. Karena ketekunannya dalam belajar terinspirasi dari
batu kecil di tepi sungai itu, maka ia pun diberi nama Ibn Hajar, yang artinya
“anak batu”. Masih banyak kisah sukses yang dialami oleh orang-orang ternama
akibat ketekunannya dalam meraih cita-cita. Oleh karena itu, sebagai seorang
mukmin, tekunlah dalam berusaha baik untuk urusan duniawi terutama dalam urusan
ukhrawi. Tanpa adanya usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan, maka
perubahan ke arah yang lebih baik akan sulit untuk diraih. Perhatikan dan
pahamilah firman Allah di bawah ini:
...إِنَّ
اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ...
Artinya: ... Sesungguhnya Allah tidak
merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri...(Qs. Ar-Ra’du/13: 11)
Hikmah Tekun
Di antara hikmah tekun adalah sebagai berikut:
1. Menghasilkan apa yang diusahakan 2. Selalu berusaha agar berhasil 3. Melatih
diri untuk siap menghadapi berbagai rintangan dan cobaan dalam kehidupan ini.
4. Membentuk pribadi yang dinamis dan kreatif dalam berkarya. 5. Bersyukur jika
usahanya berhasil 6. Memperoleh pahala karena bersikap tekun itu melaksanakan
ajaran Islam
C. Ulet
Ulet berarti tahan uji, tidak mudah putus asa
dan menyerah jika menemui rintangan dan hambatan yang disertai kemauan kerja
keras dalam berusaha mencapai tujuan dan cita-cita. Meskipun ia gagal dalam
suatu urusan, tetapi ia tidak mengeluh, tidak bersedih, dan tidak pula berputus
asa sehingga ia akan tetap berusaha dan mencoba lagi untuk mencapai yang diinginkannya.
Baginya, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. Mengenai berputus asa
ini, Allah melarangnya dalam surat Az-Zumar/39 ayat 53: Artinya: Katakanlah:
"Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah
kamu berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Jadi, orang yang ulet tidak akan pesimis dalam
hidupnya. Ia selalu optimis dalam mencapai tujuan dan cita-citanya. Meskipun
sikap ulet memerlukan sikap yang optimis, tidak boleh pula optimis yang
berlebihan, sebab hal itu dapat menimbulkan kesombongan. Oleh karena itu, sikap
ulet hendaknya diiringi dengan sifat tawakal kepada Allah SWT. Berhasil
tidaknya usaha yang kita lakukan tidak terlepas dari kehendak dan kekuasaan
Allah. Perhatikan pula firman Allah berikut ini.
فَإِذَا
عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Artinya: Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Qs. Ali Imran/3: 159)
Sikap ulet juga dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika bekerja pada Khadijah.
Beliau tidak menghiraukan musim panas atau dingin. Dia pantang menyerah, tidak
berputus asa, dan ulet dalam memperdagangkan dagangan majikannya ke berbagai
tempat dan pasar. Tidak hanya di kota Mekkah, tetapi sampai ke luar Mekah,
seperti Yaman, Madinah, Kufah dan Basrah. Begitu pula dalam berdakwah. Meskipun
ia dan para sahabat diteror oleh orang-orang kafir Quraisy, tetapi ia tidak
pernah menyerah dan berputus asa untuk menyampaikan dakwah kepada mereka
sehingga orang-orang yang menentangnya menjadi sahabat yang setia, seperti Umar
bin Khattab, Khalid bin Salid, Abu Sufyan, dan sebagainya.
Hikmah Ulet
Di antara hikmah ulet adalah: 1. memperoleh
kesuksesan atas apa yang ia usahakan 2. optimis dalam bekerja 3. menumbuhkan
semangat untuk selalu berusaha 4. tidak putus asa meskipun usahanya belum
berhasil 5. mendapat pahala karena bersikap ulet melaksanakan ajaran Islam.
D. Teliti
Teliti adalah cermat, berhati-hati, penuh
perhitungan dalam berpikir dan bertindak, serta tidak tergesa-gesa dan tidak
ceroboh dalam melaksanakan pekerjaan. Sikap ketelitian sangat dibutuhkan dalam
mencapai hasil yang maksimal. Islam mengajarkan kepada setiap muslim untuk
bersikap teliti dalam setiap pekerjaan. Allah tidak menyukai makhluknya yang
bekerja dengan tergesa-gesa karena bisa menimbulkan kesalahan dan kegagalan
dalam mencapai suatu tujuan. Allah SWT berfirman:
خُلِقَ
الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ
Artinya:
Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan
kepadamu tanda-tanda azab)-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku
mendatangkannya dengan segera. (Qs. Al-Anbiya’/21: 37) Oleh karena itu
bekerjalah dengan hati-hati dan jauhilah bekerja yang tergesa-gesa. Rasulullah
SAW bersabda:
اَلْعَجَلَةُ
مِنَ الشَّيْطَانِ وَالتَّأَنِّيْ مِنَ اللهِ
Artinya: Tergesa-gesa itu berasal dari
syetan dan berhati-hati dari Allah. (H.R. Tirmidzi). Sifat teliti juga
dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Misalnya ketika menyikapi perlakuan kasar
orang-orang kafir Quraisy terhadap umat Islam yang ada di Mekah, sementara nabi
telah hijrah ke Madinah. Ketika itu para sahabat meminta nabi agar segera
berperang melawan kezaliman kafir Quraisy. Tetapi nabi tidak tergesa-gesa.
Untuk beberapa saat ia menunggu petunjuk dan perintah dari Allah lalu ia
bicarakan dengan para sahabatnya tentang strategi apa yang dilakukan. Berkat
ketelitian dan usaha keras dari nabi dan para sahabat, perang Badar yang tidak
seimbang itu (313 orang tentara Islam melawan 1000 tentara kafir Quraisy)
akhirnya dimenangkan umat Islam. Dengan demikian, berupayalah dengan kerja
keras, tekun, ulet, dan teliti sehingga hasil yang kita peroleh mengalami
peningkatan dan akan lebih baik dari hari-hari sebelumnya. Pahami dan
perhatikanlah sabda Rasulullah SAW berikut ini:
مَنْ
كَانَ يَوْمُهُ خَيْرًا مِنْ أَمْسِهِ فَهُوَ رَابِحٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ
مِثْلَ أَمْسِهِ فَهُوَ مَغْبُوْنٌ وَمَنْ كَانَ يَوْمُهُ شَرًّا مِنْ أَمْسِهِ
فَهُوَ مَلْعُوْنٌ (رواه الحاكم)
Artinya: Barangsiapa amal usahanya lebih
baik dari hari kemarin maka orang itu termasuk yang beruntung; jika amal
usahanya sama dengan yang kemarin, maka ia termasuk orang yang rugi; dan jika
amal usahanya lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang
terlaknat. (H.R. al-Hakim).
Hikmah Teliti
Di
antara hikmah sikap teliti adalah sebagai berikut:
1.
bekerja penuh dengan keyakinan
2.
memperoleh hasil yang memuaskan
3.
menghindari kesalahan dan kekeliriun dalam melakukan pekerjaan
4.
hasil usaha dapat dipertanggungjawabkan secara profesional
5.
memudahkan untuk memperoleh kesuksesan
6.
terhindar dari penyeselan akibat dari kegagalan yang disebabkan ketergesa
ULANGAN HARIAN
NO.
|
SOAL
|
Nilai
|
1.
|
Jelaskan
pengertian kerja keras!
|
|
2.
|
Jelakan
pengertian tekun!
|
|
3.
|
Jelaskan
pengertian ulet!
|
|
4.
|
Jelaskan
pengertian teliti!
|
|
5.
|
Sebutkan contoh perilaku kerja
keras dalam lingkungan keluarga!
|
|
6.
|
Sebutkan contoh perilaku ulet dalam
lingkungan keluarga!
|
|
7.
|
Sebutkan contoh perilaku tekun
dalam lingkungan sekolah!
|
|
8.
|
Sebutkan contoh perilaku teliti
dalam lingkungan sekolah!
|
|
9.
|
Sebutkan 2 hikmah kerja keras!
|
|
10.
|


Tidak ada komentar:
Posting Komentar