BAB II
IMAN KEPADA ALLAH SWT.
Adanya alam semesta ini merupakan bukti bahwa Allah SWT. Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan yang menciptakan alam semesta dan yang mengaturnya. Tidak ada Tuhan selain Allah SWT yang wajib disembah. Umat islam meyakini adanya Allah SWT dan mengetahui sifat-sifatnya, agar menjadi mukmin sejati. Dengan modal iman inilah kita akan menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.
Rukun Iman terdiri dari 6 perkara,
yaitu:
1. Iman kepada Allah SWT.
2. Iman Kepada Malaikat
3. Iman kepada Kitab-kitab Allah
4. Iman kepada Rasul-rasul Allah
5. Iman kepada Hari Kiamat
6. Iman kepada Qada’ dan Qadar
|
A. Pengertian Iman Kepada Allah SWT
Iman menurut bahasa artinya percaya
atau yakin terhadap sesuatu. Iman menurut istilah adalah pengakuan di dalam
hati, diucapkan dengan lisan dan dikerjakan dengan anggota badan. Hal ini
sesuai Hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :
اَلاِيْمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ وَ قَوْلٌ بِاللِّسَا نِ
وَ عَمَلٌ بِالاَرْكَانِ (رواه الطبران)
Artinya : “Iman adalah pengakuan
dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan pengamalan dengan anggota badan.”(HR
Thabrani)
Dari penjelasan Hadits di atas dapat
disimpulkan bahwa iman kepada Allah SWT membutuhkan tiga unsur anggota badan
yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, yaitu hati, lisan dan anggota
badan. Oleh karena itu, apabila ada seseorang yang mengaku beriman kepada Allah
SWT hanya dalam hati, lisan, hati dan lisan atau anggota badan saja, maka orang
tersebut belum bisa dikatakan orang yang beriman.
Firman Allah SWT :
يَا اَيُّهَا الذِيْنَ امَنُوا امِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ
وَالكِتَابِ الذِى نَزَّلَ عَلى رَسُولِهِ وَالكِتَابِ الذِى اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ
وَمَنْ يَكفُرْ بَاللهِ وَمَلئِكَتِهِ وَكتبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الاخِرِِ
فقد ضَلَّ ضَلالا بَعِيْدًا ﴿النسأ»١٣٦﴾
Artinya : Wahai orang-orang yang
beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab Allah
yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab Allah yang diturunkan sebelumnya,
Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya,Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian maka sesungguhnya orang itu
telah sesat sejauh-jauhnya. (QS.An Nisa : 136).
Adapun tingkatan iman /keyakinan itu
sebagai berikut :
1.
Ilmul
Yaqin, yaitu keyakinan yang bersumber dari ilmu
dan pengetahuan atau berasal dari kabar berita orang lain.
2.
Ainul
Yaqin, yaitu keyakinan yang berdasarkan
atas penglihatan yang nyata melalui mata kepala sendiri tanpa perantara orang
lain.
3.
Haqqul Yaqin, yaitu keyakinan yang hakiki dan
terbukti adanya dengan merasakan langsung sesuatu yang diyakin.
Menjelaskan kisah tentang Imam
Abu Hanifah pada saat berusia 10 berdebat melawan orang-orang kafir
mengenai keimanan (dalam kitab Fathul Majid)
|
B. Sifat-Sifat Allah SWT
Allah SWT adalah zat Maha Pencipta
dan Maha Kuasa atas seluruh alam beserta isinya. Allah SWT memiliki sifat
wajib, mustahil dan jaiz sebagai sifat kesempurnaan bagi-Nya. Sebagai muslim
yang beriman, wajib mengetahui sifat-sifat tersebut.
- Sifat wajib, artinya sifat-sifat yang pasti
dimiliki oleh Allah SWT . sifat wajib Allah berjumlah 20, yang terdiri
atas:
a)
Sifat
Nafsiyah yaitu sifat yang berhubungan
dengan Dzat Allah SWT. adapun yang termasuk dalam kelompok ini hanya 1
yaitu sifat Wujud.
b)
Sifat
Salbiyah yaitu sifat-sifat yang menolak
adanya sifat-sifat lain. Yang termasuk dalam kelompok ini ada 5 sifat
antara lain : Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lilhawaditsi, Qiyamuhu binafsihi, dan
Wahdaniyah.
c)
Sifat
Ma’ani yaitu sifat-sifat yang dapat digambarkan oleh akal
pikiran manusia dan dapat dibuktikan oleh panca indra. Kelompok ini terdiri
dari 7 sifat antara lain : Qudrat, Iradat, Ilmu, Hayat, Sama’, Bashar, dan
Kalam.
d)
Sifat
Ma’nawiyah yaitu sifat yang masih berkaitan
dengan sifat Ma’ani, namun memiliki makna “maha”. Kelompok ini juga terdiri
dari 7 sifat antara lain : Qadiran, Muridan, ‘Aliman, Hayyan, Sami’an,
Bashiran, dan Mutakalliman.
- Sifat mustahil, artinya sifat-sifat yang tidak mungkin
ada pada pada Allah SWT. Sifat mustahil merupakan kebalikan dari sifat
wajib. Jumlahnyapun sama dengan jumlah sifat wajib bagi Allah SWT.
- Sifat jaiz, artinya sifat yang mungkin bagi Allah SWT
untuk berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu sesuai dengan
kehendak-Nya. Artinya Allah berbuat sesuatu tidak ada yang menyuruh dan
tidak ada yang melarang. Sifat jaiz bagi Allah hanya satu, yaitu “Fi’lu
kulli mumkinin au tarkuhu.”
- Sifat wajib dan mustahil bagi
Allah SWt adalah sebagai berikut
No
|
Sifat Wajib
|
Artinya
|
Ket.
|
Sifat Mustahil
|
Artinya
|
1.
|
Wujud
|
Ada
|
Nafsiyah
|
Adam
|
Tidak ada
|
2.
|
Qidam
|
Terdahulu
|
Sifat Salbiyah
|
Hudus
|
Baru
|
3.
|
Baqa’
|
Kekal
|
Fana’
|
Rusak
|
|
4.
|
Mukhalafatu lilhawadisi
|
Berbeda dengan baru (mahluk)
|
Mumasalatu lil hawadisi
|
Sama dengan mahluk-Nya
|
|
5.
|
Qiyamuhu binafsihi
|
Berdiri dengan zat-Nya sendiri
|
Ihtiyajuhu lighairihi
|
Membutuhkan per tolongan Yang lain
|
|
6.
|
Wahdaniyat
|
Esa
|
Ta’adud
|
Berbilang
|
|
7.
|
Qudrat
|
Kuasa
|
Sifat Ma’ani
|
Ajzu
|
Lemah
|
8.
|
Iradat
|
Berkehendak
|
Karahah
|
Terpaksa
|
|
9.
|
Ilmu
|
Mengetahui
|
Jahlun
|
Bodoh
|
|
10.
|
Hayat
|
Hidup
|
Mautun
|
Mati
|
|
11.
|
Sama’
|
Mendengar
|
Summu
|
Tuli
|
|
12.
|
Basar
|
Melihat
|
Umyum
|
Buta
|
|
13.
|
Kalam
|
Berfirman
|
Bukmum
|
Bisu
|
Adapun sifat wajib yang
menunjukkan makna “Maha” adalah sebagai berkut.
No
|
Sifat Wajib
|
Artinya
|
Ket.
|
Sifat Mustahil
|
Artinya
|
14.
|
Qadiran
|
Maha Kuasa
|
Sifat Ma’nawiyah
|
Ajzun
|
Yang Maha Lemah
|
15.
|
Muridan
|
Maha Berkehendak
|
Mukrahan
|
Yang maha terpaksa
|
|
16.
|
Aliman
|
Maha Mengetahui
|
Jahilun
|
Yang maha bodoh
|
|
17.
|
Hayyan
|
Maha Hidup
|
Mayyitun
|
Yang mati
|
|
18.
|
Sami’an
|
Maha Mendengar
|
Ashamma
|
Yang maha tuli
|
|
19.
|
Basiran
|
Maha Melihat
|
A’ma
|
Yang maha buta
|
|
20.
|
Mutakaliman
|
Maha Berfirman
|
Abkama
|
Yang maha bisu
|
C. Dalil Naqli dan
Aqli tentang Sifat-Sifat Allah SWT.
1. Allah
Bersifat Wujud (Ada), Mustahil Bersifat ‘Adam (Tidak Ada)
Wujud berarti
ada. Adanya Allah itu bukan karena ada yang mengadakan atau menciptakan, tetapi
Allah itu ada dengan zat-Nya sendiri. Adapun sifat mustahil-Nya adalah adam yang
berarti tidak ada. Kepercayaan ada dan tidak adanya Allah SWT bergantung pada
manusia itu sendiri yang bisa menggunakan akal sehatnya, sebagai bukti dengan
adanya alam beserta isinya. Jika kita perhatikan, maka dari mana alam
semesta itu berasal? Siapakah Dia Yang Maha Kuasa dan Maha Agung itu? Dialah
Allah SWT yang Maha Suci dan Maha Tinggi. Dialah yang mengadakan segala sesuatu
di alam ini, termasuk diri kita. Selain melihat alam semesta, kita juga dapat
melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya, seperti manusia dengan segala perlengkapan
hidupnya di dunia ini. Tentu kita bisa berfikir bahwa semua yang ada pasti ada
yang menciptakan, yaitu Tuhan Yang Maha Kuasa ( Allah SWT).
Terkait dengan hal ini Allah SWT
berfirman :
وَهُوَ الذِى اَنْشَاَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالابْصَارَ
وَالافْئِدَةَ قَلِيْلا مَا تَشْكُرُوْنَ ﴿78﴾ وَهُوَ الذِى ذَرَئَكُمْ فِى الارْضِ وَاليهِ تُحشَرُوْنَ ﴿79﴾ وَهُوَ الذِى يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَلَهُ اخْتِلافِ اللَّيْلِ
وَالنَّهَارِ اَفَلا تَعْقِلُوْنَ ﴿80﴾ ﴿المؤمنون»٧٨–۸٠﴾
Artinya :
“Dan dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian pendengaran, penglihatan
dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur. Dan Dialah yang menciptakan serta
mengembangbiakkan kamu di bumi ini dan kepada-Nyalah
kamu akan dihimpun. Dan Dialah yang menghidupkn dan mematikan dan Dialah yang
mengatur pertukaran malam da siang. Maka apakah kamu tidak berfikir?” (QS.Al
Muminun :78-80)
ãNà6Ï9ºs
ª!$#
öNä3/u
(
Iw
tm»s9Î)
wÎ)
uqèd
(
ß,Î=»yz
Èe@à2
&äó_x«
çnrßç6ôã$$sù
4
uqèdur
4n?tã
Èe@ä.
&äóÓx«
×@Å2ur
ÇÊÉËÈ
Artinya: (yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah
Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain dia; Pencipta segala sesuatu, Maka sembahlah
dia; dan Dia adalah pemelihara segala sesuatu. (QS Al An’am : 102)
Menurut fitrah dan pertimbangan akal sehat tidak mungkin Allah SWT tidak
ada, karena ada yang dibuat yaitu makhluk. Pendapat bahwa Tuhan itu tidak ada
dan memandang ala mini terjdai secara kebetulan adalah irasional (tidak masuk
akal). Manfaat mempelajarinya: agar manusia mau mengabdikan
diri (menyembah) kepada yang wujud itu yaitu Allah SWT
2. Allah
Bersifat Qidam (Dahulu), Mustahil bersifat Huduts (Didahului)
Qidam berarti
terdahulu. Allah SWT mempunyai sifat terdahulu karena tidak ada yang
mendahului. Sifat mustahil-Nya adalah Hudus yang artinya baru.
Allah SWT tidak berpermulaan sebab
sesuatu yang berpermulaan itu adalah baru dan sesuatu yang baru itu namanya
mahluk (yang diciptakan). Allah SWT bukan mahluk melainkan Khalik (Maha
Pencipta). Oleh karena itu Allah SWT wajib bersifat qidam.
Firman Allah SWT :
هُوَ الاوَّلُ وَالاخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالبَاطِنُ وَهُوَ
بِكُلِّ شَئٍ عَلِيْمٍ ﴿الحديد»3﴾
Artinya: “Dialah yang Awal dan yang
akhir yang Zhahir dan yang Bathin[1452]; dan dia Maha mengetahui segala
sesuatu”.(QS.Al-Hadiid:3)
Adanya Allah itu pasti lebih awal
daripada mahluk ciptaan-Nya. Seandainya keberadaan Allah didahului oleh
mahluk-Nya, maka semua ciptaan Allah ini akan hancur berantakan. Hal ini tentu
mustahil bagi Allah karena Allah Maha pencipta, tidak mungkin ciptaannya lebih
dahulu daripada yang menciptakan. Memperhatikan
tanda – tanda kekuasaan Allah, maka akal sehat manusia pasti menolak bahwa yang
diciptakan lebih dahulu ada dari yang menciptakan. Pelukis lebih dulu ada dari
pelukisnya. Maka mustahil Allah bersifat Huduts.
Manfaat
mempelajarinya: agar manusia yakin bahwa Allah SWT telah ada dan sempurna sejak
awal.
3. Allah
Bersifat Baqa’ (Kekal) Mustahil Fana (Binasa)
Baqa’ berarti
kekal. Kekalnya Allah SWT tidak berkesudahan atau penghabisan. Sifat
mustahilnya adalah fana’ artinya rusak atau binasa. Semua mahluk
yang ada di alam semesta seperti manusia, binatang, tumbuhan, planet dan
bintang akan rusak atau binasa sehingga disebut baru sebab ada awal dan ada
akhirnya.
Manusia betapapun gagah perkasa
dirinya, wajah elok nan rupawan, suatu saat akan menjadi tua dan mati. Demikian
halnya dengan tumbuhan yang semula tumbuh subur maka lama kelamaan akan layu
dan mati. Sungguh betapa hina dan lemahnya kita berbangga diri di hadapan Allah
SWT. Betapa tidak patutnya kita berbangga diri dengan kehebatan yang kita
miliki karena segala kehebatan itu hanyalah bersifat sementara. Hanya Allah SWT
Sang Pencipta yang bersifat kekal. Firman Allah SWT :
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ﴿26﴾ وَيِبْقى وِجْهُ رَبّك ذُوا الجَلالِ وِالاكْرَامِ ﴿27﴾ ﴿الرحمن»٢٧–٢٦﴾
Artinya : Semua yang ada di
bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan
kemuliaan. (QS.Ar Rahman :26-27)
Allah SWT tidak
ada yang menciptakan, maka mustahil bagi Allah SWT memiliki sifat seperti
makhluk. Seluruh makhluk di alam semesta ini ada awalnya dan pasti akan
berakhir, maka semuanya akan hancur.
Manfaat
mempelajarinya: agar manusia yakin bahwasanya Allah SWT bersifat kekal,
sementara manusia pasti binasa dan manusia harus menyiapkan bekal untuk
kehidupan sesudah binasa.
4. Allah Besifat Mukhallafat lil Hawaditsi
(Berbeda dari Semua Makhluk), Mustahil Mumatsalatuhu lil Hawaditsi (Ada
yang Menyamainya)
Mukhalafatu lil Hawadisi
berarti berbeda dengan semua yang baru (mahluk). Sifat mustahilnya adalah mumasalatu
lil hawadisi artinya serupa dengan semua yang baru(mahluk).
Sifat ini menunjukkan bahwa Allah
SWT berbeda dengan hasil ciptaan-Nya. Coba kita perhatikan tukang jahit hasil
baju yang dijahit sendiri tidak mungkin sama dengan baju yang dibuat orang
lain. Begitu juga dengan tukang pembuat sepatu tidak mungkin sama dengan sepatu
yang dibuatnya, bahkan robot yang paling canggih dan mirip manusia sekalipun
tidak akan sama dengan manusia yang membuatnya.
Firman Allah SWT :
…. لَيْسَ
كَمِثلِهِ شِئٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ ﴿الشورى»١١﴾
Artinya :”……… Tidak sesuatu pun yang
serupa dengan Dia. Dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS
Asyura’: 11)
Senada dengan ayat tersebut Allah
SWT juga berfirman dalam ayat yang lain yang berbunyi :
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا اَحَدٌ ﴿الأخلاص»٤﴾
Artinya : “……….Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan Dia(Allah).”(QS Al Ikhlas :4)
Dari dua ayat di atas dapat diambil
pelajaran bahwa yang dimaksud dengan tidak setara itu adalah tentang keagungan,
kebesaran, kekuasaan dan ketinggian sifat-Nya. Tidak satupun dari mahluk-Nya
yang menyerupai-Nya.
Kita wajib
percaya bahwa Allah SWT berbeda dengan makhluknya. Meja, kursi, papan tulis
yang dibuat tentu tidak akan sama bentuk dan rupanya dengan yang membuat.
Begitu pula Allah SWT sebagai Khalik pasti berbeda dengan Makhluk.
Manfaat
mempelajarinya: agar manusia yakin bahwa mauusia tidak mampu menandingi zat
Allah yang pasti tidak sama dengan manusia.
5. Allah
Bersifat Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri), Mustahil Qiyamuhu
Bighairihi (Bergantung pada Sesuatu)
Qiyamuhu Binafsihi berarti
Allah SWT itu berdiri dengan zat sendiri tanpa membutuhkan bantuan yang lain.
Maksudnya, keberadaan Allah SWT itu ada dengan sendirinya tidak ada yang
mengadakan atau menciptakan. Contohnya, Allah SWT menciptakan alam semesta ini
karena kehendak sendiri tanpa minta pertolongan siapapun.
Sifat mustahilnya adalah ihtiyaju
lighairihi, artinya membutuhkan bantuan yang lain. Berbeda sekali dengan
manusia, manusia hidup di dunia ini tidak bisa hidup sendiri-sendiri. Mereka
pasti saling membutuhkan antara satu dan yang lainnya karena mereka mahluk
(yang diciptakan), sedangkan Allah SWT adalah Maha Pencipta.
Firman Allah SWT :
اَللهُ لا اِلهَ اِلا هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ ﴿على عمران»٢﴾
Artinya : “Allah tidak ada Tuhan
selain Dia. Yang hidup kekal lagi senantiasa berdiri sendiri.” (QS Ali Imran:2)
…. (
wur ¼çnßqä«t $uKßgÝàøÿÏm 4
uqèdur Í?yèø9$# ÞOÏàyèø9$#
rtinya : “…
Allah tidak merasa berat memelihara keduanya dan dia Maha Tinggi lagi Maha
Agung.” (QS Al Baqarah : 255).
Allah SWT tidak memerlukan bantuan
dari yang lain, dia berkuasa sendiri, karena dia maha Sempurna. Jika Allah SWT
memerlukan bantuan dari yang lain berarti Allah bersifat Ihtiyaju li
ghairihi atau Qiyamuhu bi ghirihi. Itu tidak mungkin bagi Allah SWT,
karena menunjukkan kelemahan dan kekurangan. Yang mempunyai sifat kelemahan
hanya makhluk, Mustahil dimiliki oleh Allah SWT.
Manfaat mempelajarinya: agar manusia
tidak sombong, karena manusia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya,
antara manusia harus saling tolong – menolong karena yang berdiri sendir adalah
Allah SWT.
6. Allah
Bersifat Wahdaniyah (Esa), Mustahil Ta’addud (Berbilang)
Wahdaniyah berarti
esa atau tunggal. Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa., baik esa zat-Nya,
sifat-Nya, maupun perbuata-Nya.
Esa zat-Nya maksudnya zat Allah SWT
itu bukanlah hasil dari penjumlahan dan perkiraan atau penyatuan satu unsur
dengan unsur yang lain mkenjadi satu. Berbeda dengan mahluk, mahluk diciptakan
dari berbagai unsur, seperti wujudnya manusia, ada tulang, daging, kulit dan
seterusnya.
Esa sifat-Nya artinya semua
sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah SWT tidak sama dengan sifat-sifat pada
mahluk-Nya, seperti marah, malas dan sombong.
Esa perbuatan-Nya berarti Allah SWT
berbuat sesuatu tidak dicampuri oleh perbuatan mahluk apapun dan tanpa
membutuhkan proses atau tenggang waktu. Allah SWT berbuat karena kehendak-Nya
sendiri tanpa ada yang menyuruh dan melarang.
Sifat mustahil-Nya adalah ta’adud
artinya berbilang atau lebih dari satu. Allah SWT mustahil (tidak
mungkin) lebih dari satu. Seandainya lebih dari satu pasti terjadi saling
bersaing dalam menentukan segala sesuatunya, kalau terjadi demikian pasti alam
semesta tidak akan terwujud.
Perhatikan firman Allah SWT berikut
ini :
قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ ﴿1﴾ اَللهُ
الصَّمَدُ ﴿2﴾ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ ﴿3﴾ وَلَمْ يَكُنْ
لَهُ كُفُوًا اَحَدٌ ﴿4﴾
Artinya :”Katakanlah (Muhammad ).
Dialah Tuhan Yang Maha Esa . Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada_Nya
segala sesuatu . dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada
seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS Al Ikhlas :1-4)
Meyakini ke-Esa-an Allah SWT
merupakan hal yang paling prinsip. Seseorang dianggap muslim atau tidak ,
bergantung pada pengakuan tentang ke-Esa-an Allah SWT. Hal ini dapat dibuktikan
dengan cara bersaksi terhadap Allah SWT, yaiut dengan membaca syahadat tauhid
yang berbunyi : “Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah.”
Allah SWT adalah zat yang mutlak, tidak dapat disamakan
dengan apapun, tidak mungkin dilihat dengan mata, tidak dapat diraba dengan
tangan, tidak dapat diketahui dengan panca indera manusia, juga tidak dapat
diukur dengan alat apapun, karena dia sangat berbeda dengan apa pun yang ada. Allah SWT pun
esa dalam perbuatannya, maksudnya tidak ada sesuatu yang mampu berbuat seperti
perbuatan khalik. Dia yang mewujudkan semua rencana dan perbuatannya tanpa
dipengaruhi pihak lain.
Jika kita perhatikan alam semesta dan segala isinya,
nampak keteraturan antara satu dengan yang lain, itu adalah bukti bahwa alam
ini berjalan atas “sunatullah”, tidak nampak sedikitpun benturan. Jika
demikian, maka yang mengatur hanya zat yang tunggal, yaitu Allah. Kerusakan
akan terjadi bila adanya tuhan lebih dari satu. Firman Allah SWt dalam QS Al
Anbiya : 22, yang berbunyi:
öqs9
tb%x.
!$yJÍkÏù
îpolÎ;#uä
wÎ)
ª!$#
$s?y|¡xÿs9
4
z`»ysö6Ý¡sù
«!$#
Éb>u
ĸöyèø9$#
$£Jtã
tbqàÿÅÁt
ÇËËÈ
Artinya: Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain
Allah, tentulah keduanya itu telah Rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang
mempunyai ‘Arsy daripada apa yang mereka sifatkan. (QS Al Anbiya : 22)
Keesaan Allah SWT wajib diyakini oleh setiap mukmin secara utuh dan
sempurna. Namun jangan sampai memikirkan zat atau bentuk Allah, tetapi yang
harus dipirkan hanyalah ciptaannya saja.
Manfaat mempelajarinya: agar manusia yakin akan keesaan Allah dan hanya
taat kepada Allah yang Esa itu.
7. Allah Bersifat Qudrat (Maha
Kuasa), Mustahil ‘Ajzun
Qudrat berarti kuasa. Kekuasaan
Allah SWT, atas segala sesuatu itu mutlak, tidak ada batasnya dan tidak ada
yang membatasi, baik terhadap zat-Nya sendiri maupun terhadap makhluk-Nya.
Berbeda dengan kekuasaan manusia ada batasnya dan ada yang membatasi.
Contohnya, kekuasaan Presiden RI, dibatasi oleh undang-undang dan batas
kekuasaannya hanya untuk negara Indonesia.
Sifat mustahilnya adalah ‘ajzu, artinya
lemah. Allah SWT tidak mungkin bersifat lemah. Bagi Allah SWT, jika sudah
berkehendak melakukan atau melakukan sesuatu, maka tidak ada satu pun yang
dapat menghalangin-Nya. Dengan demikian, Allah SWT tetap bersifat kudrat
(kuasa) dan mustahil bersifat ‘ajzu (lemah).
Firman Allah SWT :
…. اِنَّ
اللهَ عَلى كُلِّ شَئٍْ قَدِيْر ٍ﴿البقرة»٢٠﴾
Artinya : “Sesungguhnya Allah
berkuasa atas segala sesuatu”. (QS.Al Baqarah:20)
Sungguh idak patut manusia bersifat
sombong dengan kekuasaan yang kita miliki karena sebesar apapun Allah SWT.
Pasti lebih kuasa. Oleh karena itu, kita sebagai hamba Allah yang hidup di muka
bumi harus berkarya, berkreasi, dan berinovasi.
Manfaat
mempelajarinya: agar manusia tidak berlaku sewenang – wenang bila memiliki
kekuasaan, karena kekuasaan yang dimiliki oleh manusia sifatnya hanya sementara
dan terbatas.
8. Allah Bersifat Iradat (Berkehendak),
Mustahil Karahah (Terpaksa)
Iradat
berarti berkehendak. Allah SWT menciptakan alam beserta isinya atas kehendak-Nya
sendiri, tanpa ada paksaan dari pihak lain atau campur tangan dari siapa
pun Apapun yang Allah SWT kehendakin pasti terjadi, begitu juga setiap
setiap Allah SWT tidak kehendaki pasti tidak terjadi.
Berbeda dengan kehendak atau kemauan
manusia, tidak sedikit manusia mempunyai keinginan, tetapi keinginan itu kandas
di tengah jalan. Apabila manusia berkeinginan tanpa disertai dengan kehendak
Allah SWT. Pasti keinginan itu tidak terwujud. Hal ini menunjukan bahwa manusia
memiliki keterbatasan, sedangkan Allah SWT memiliki kehendak yang tidak
terbatas. Adapun sifat mustahilnya adalah karahah, artinya terpaksa.
Jika Allah SWT bersifat karahah (terpaksa) pasti alam jagat raya yang kita
tempai ini tidak terwujud sebab karahah itu adalah sifat kekurangan, sedangkan
Allah SWT, wajib bersifat kesempurnaan. Dengan demikian, Allah SWT. Wajib
bersifat iradah (berkehendak) mustahil bersifat karahah (terpaksa).
Untuk menguatkan keyakinan kita, Allah SWT berfirman :
اِنََّمَا اَمْرُهُ اِذَا اَرَادَ شَيْئًا اَنْ َيقُولَ لَهُ
كُنْ فَيَكُوْنُ ﴿يس»٧٢﴾
Artinya : “Sesungguhnya perintah-Nya
apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:”Jadilah”maka
terjadilah”. (QS. Yasin : 82)
Sebagai manusia kita harus mempunyai
kemauan, keinginan, dan cita-cita yang bertujuan membangun hari esok yang lebih
baik karena kita hidup di muka bumi ini hanya bersifat sementara. Oleh karena
itu, apapun yang kita cita-citakan dengan tujuan mengharap rida Allah SWT.
Manfaat
mempelajarinya: agar manusia tidak lekas putus asa bila kehendaknya tidak
tercapai atau menemui kegagalan, sebab kewajiban manusia hanyalah berusaha dan
yang menentukan adalah Allah SWT.
9. Allah Bersifat Ilmu (Maha
Mengetahui), Mustahil Jahlun (Tidak Tahu atau Bodoh)
Ilmu berarti
mengetahui. Sifat mustahilnya adalah Jahlun yang artinya bodoh. Allah
SWT memiliki pengetahuan atau kepandaian yang sangat sempurna, artinya ilmu
Allah SWT itu tidak terbatas dan tidak pula dibatasi. Allah SWT mengetahui
segala sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang tampak maupun yang gaib.
Bahkan, apa yang dirahasiakan didalam hati manusia sekali pun. Bukti
kesempurnaan ilmu Allah SWT, ibarat air laut menjadi tinta untuk menulis
kalimat-kalimat Allah SWT, tidak akan habis kalimat-kalimat tersebut meskipun
mendatangkan tambahan air yang banyak seperti semula.
Kita sering kagum atas kecerdasan
dan ilmu yang dimiliki orang-orang pintar di dunia ini. Kita juga takjub akan
indahnya karya dan canggihnya tekhnologi yang diciptakan manusia. Sadarkah kita
bahwa ilmu tersebut hanyalah sebagian kecil saja yang diberikan Allah SWT
kepada kita ?.
Firman Allah SWT :
….وَاللهُ يَعْلمُ
مَا فِى السَّموَاتِ وَمَا فِى الارْضِ وَاللهُ بِكُل شَئٍْ عَلِيْمٌ ﴿الحجرات»١٦﴾
Artinya :”…..Allah SWT mengetahui
apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.” (QS Al Hujurat:16).
Oleh karena itu, sebagai hamba Allah
SWT, seharusnya terdorong untuk terus menimba ilmu. Kita sadar bahwa sebanyak
apapun ilmu yang telah kita ketahui, masih lebih banyak lagi ilmu yang belum
kita ketahui.
¨bÎ)
©!$#
ÞOn=÷èt
|=øxî
ÏNºuq»yJ¡¡9$#
ÇÚöF{$#ur
4
ª!$#ur
7ÅÁt/
$yJÎ/
tbqè=yJ÷ès?
ÇÊÑÈ
Artinya: Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang
kamu kerjakan. (QS Al
Hujurat : 18)
Allah mustahil bersifat Jahlun (bodoh), karena bodoh
merupakan sifat kekurangan, sedangkan Allah SWT Maha Sempurna. Manfaat
mempelajarinya: agar manusia tidak sombong bila memiliki ilmu pengetahuan sebab
ilmu Alla teramat luas dan ilmu manusia terbatas.
10. Allah Bersifat Hayat
(Hidup),
Mustahil Mautun (Mati)
Hayat
berarti hidup. Hidupnya Allah tidak ada yang menhidupkannya melainkan hidup
dengan zat-Nya sendiri karena Allah Maha Sempurna, berbeda dengan makhluk yang
diciptakan-Nya.
Sifat mustahilnya adalah mautun yang
artinya mati. Contohnya, manusia ada yang menghidupkan. Selain itu, mereka juga
mmebutuhkan makanan, minuman, istirahat, tidur, dan sebagainya. Akan tetapi,
hidupnya Allah SWT tidak membutuhkan semua itu. Allah SWT hidup selama-lamanya,
tidak mengalami kematian bahkan mengantuk pun tidak.
Firman Allah SWT :
اللهُ لا الهَ الا هُوَ الحَيُّ القيُّومُ لا تَاخُذهُ سِنَة
وَلا نَوْمٌ …. ﴿ البقرة»225﴾
Artinya:”Allah tidak ada Tuhan
melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya, tidak
mengantuk dan tidak tidur”. (QS Al Baqarah: 255)
Allah SWT selalu mengurus dan
mengawasi seluruh makhluk ciptaan-Nya. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu
berhati-hati dalam segala tindakan karena gerak gerik kita akan di awasi
dicatat Allah SWT. Kelak di akhirat seluruh amalan tersebut akan kita pertanggungjawabkan.
ö@2uqs?ur
n?tã
ÇcyÛø9$#
Ï%©!$#
w
ßNqßJt
ôxÎm7yur
¾ÍnÏôJpt¿2
4
4xÿ2ur
¾ÏmÎ/
É>qçRäÎ/
¾ÍnÏ$t6Ïã
#·Î7yz
ÇÎÑÈ
Artinya : “Dan bertawakkallah kepada
Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya.
Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya.” (QS Al Furqan
: 58)
Sesuai dengan
kekuasaannya, Allah memiliki sifat Hayat yang mutlak, hidup dengan sendirinya
dan sifatnya kekal. Hidup tidak pernah berakhir dengan kematian, karena mati
hanyalah milik makhluk. Dengan demikian wajib bagi Allah SWT bersifat hayat,
dan mustahil bagiNya besifat maut.
Manfaat
mempelajarinya: agar manusia hendaknya bebuat baik selama hidup di dunia yang
hanya sekali ini, sebab yang hidup kekal hanya Allah sedang manusia pasti
mengalami kematian.
11. Allah Bersifat Sama’
(Mendengar), Mustahil ‘Asham (Tuli)
Sama’ berarti
mendengar . Allah SWT mendengar setiap suara yang ada di alam semesta ini.
Yidak ada suara yang terlepas dari pendengaran Allah SWT walaupun suara itu lemah
dan pelan., seperti suara bisikan hati dan jiwa manusia. Pendengaran Allah SWT
berbeda dengan pendengaran mahluk –Nya karena tidak terhalang oleh suatu
apapun, sedangkan pendengaran mahluk-Nya dibatasi ruang dan waktu.
Sifat mustahilnya adalah summun artinya
tuli (tidak mendengar). Allah SWT mustahil bersifat tuli (tidak mendengar)
sebab sekiranya Allah SWT tidak mendengar pasti segala permohonan dan pernyataa
syukur hamba-Nya tidak akan diterima-Nya. Selain itu penghiaan orang kafir,
orang musrik, orang munafiq, dan lain sebagainya tidak dihiraukan-Nya. Oleh
karena itu Allah SWT tetap bersifat sama’ mustahil bersifat summun .
Sebagaimana Firman Allah SWT dalam surah Al Maidah berikut.
…. وَاللهُ هُوَ
السَمِيعُ العَلِيمُ ﴿الماﺋده»٧٦﴾
Artinya :”Dan Allah-lah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(QS Al Maidah :76)
Sebagai seorang muslim seharusnya
kita senantiasa bertingkah laku, bersikap, dan berbicara dengan bahasa yang
santun dan mengeluarkan ucapan-ucapan yang baik lagi bermanfaat. Karena Allah SWT
pasti mendengar segala perkataan m,anusia, baik terucap maupun di dalam hati.
Allah Maha Mendengar, tidak ada suara yang tidak didengar
oleh Allah SWT. Tidak ada kesulitan bagi allam SWT mendengar semua suara
walaupun suara itu sangat lemah. Bahkan suara hati manusia akan didengar oleh
Allah SWT. Orang yang beriman kepada Allah SWT niscaya akan merasa senang dan
tenang karena tidak khawatir bahwa doa atau permohonannya tidak akan didengar
oleh Allah SWT. Firman Allah SWT :
øÎ)ur
ßìsùöt
ÞO¿Ïdºtö/Î)
yÏã#uqs)ø9$#
z`ÏB
ÏMøt7ø9$#
ã@Ïè»yJóÎ)ur
$uZ/u
ö@¬7s)s?
!$¨YÏB
(
y7¨RÎ)
|MRr&
ßìÏJ¡¡9$#
ÞOÎ=yèø9$#
ÇÊËÐÈ
Artinya : “Dan (ingatlah), ketika
Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya
berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya
Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.” (QS Al Baqarah : 127)
Setiap muslim
di manapun berada, siang atau malam, di tempat ramai atau tersembunyi,
senantiada didengar oleh Allah SWT. Sikap ini harus ditanamkan dalam perilaku
sehari – hari. Tidak ada kesulitan bagi Allah mendengar sesuatu dan semua suara
walaupun suara itu sangat lemah, bahkan suara hati manusia akan didengar oleh
Allah SWT. Manfaat mempelajarinya: agar manusia dalam berbicara harus berhati –
hati, jangan berkata kotor, porno, atau cabul, sebab dimana manusia berbicara
Allah pasti mendengar.
12. Allah Bersifat Bashar (Melihat),
Mustahil A’ma (Buta)
Bashar berarti
melihat. Allah SWT melihat segala sesuatu yang ada di alam semesta ini .
penglihatan Allah bersifat mutlak, artinya tidak dibatasi oleh jarak( jauh atau
dekat) dan tidak dapat dihalangi oleh dinding (tipis atau tebal). Segala
sesuatu yang ada di alam semesta ini, kecil maupun besar, tampak atau tidak
tampak, pasti semuanya terlihat oleh Allah SWT.
Sifat mustahil-Nya adalah ‘umyun,
artinya buta. Allah SWT wajib bersifat kesempurnaan. Seandainya Allah
SWT itu buta pasti alam semesta ini tidak akan ada karena Allah SWT tidak dapat
melihat apa yang diciptakan-Nya.
Firman Allah SWT sebagai berikut.
وَاللهُ
بمَا تَعْمَلونَ بَصِيْرٌ﴿البقرة» ٢٦٥﴾
Artinya :”………Dan Allah maha Melihat
apa yang kamu kerjakan.”(al-Baqarah: 265)
Dengan memahami sifat besar Allah
SWT hendaknya kita selalu berhati-hati dalam berbuat. Mungkin kita bisa
berbohong kepada manusia, seperti orang tua, guru, atau teman. Akan tetapi kita
tidak akan bisa berbohong kepada Allah SWT. Oleh karena itu , berbuat baiklah
supaya kita tidak perlu cemas jika kita harus mempertanggung jawabkannya kelak
di akhirat.
Melihatnya Allah SWT adalah sempurna terhadap apa yang
ada di alam ini. Firman Allah SWT :
¨bÎ)
©!$#
ÞOn=÷èt
|=øxî
ÏNºuq»yJ¡¡9$#
ÇÚöF{$#ur
4
ª!$#ur
7ÅÁt/
$yJÎ/
tbqè=yJ÷ès?
ÇÊÑÈ
Artinya : “Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan.” (QS Al hujurat : 18)
Bashar artinya
melihat, maksudya Allah maha melihat kepada seluruh makhluknya. Penglihatan Allah sangat
luas tidak dibatasi oleh suatu apapun. Allah maha melihat terhadap yang nampak
maupun yang tersembunyi. Manfaat mempelajarinya: agar manusia dalam menjalani
kehidupan di dunia ini hati – hati, jangan berbuat maksiat sebab Allah pasti
melihat meskipun di mana saja kita berada.
13. Allah Bersifat Kalam
(Berfirman), Mustahil Abkam (Bisu)
Kalam berarti
berfirman atau berbicara. Allah SWT bersifat kalam artinya Allah SWT berfirman
dalam kitab-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rasul-Nya. Pembicaraan
Allah SWT tentu tidak sama dengan pembicaraan manusia karena Allah SWT tidak
berorgan (panca indra), seperti lidah dan mulut yang dimiliki oleh manusia.
Allah SWT berbicara tanpa menggunkan alat bantu yang berbentuk apapun sebab
sifat kalam Allah SWT sangat sempurna. Sebagai bukti bahwa adanya wahyu Allah
SWT berupa al qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kitab-kitab
Allah yang diturunkan kepada para rasul sebelum Nabi Muhammad SAW.
Sifat mustahi-Nya adalah bukmun,
artinya bisu. Allah SWT mustahil bersifat bisu. Seandainya Allah SWT bersifat
bisu mana mungkin para utusan-Nya bisa mengerti maksud wahyu yang diturunkan
kepada tersebut, baik dalam bentuk perintah maupun larangan. Padahal kenyataannya
semua itu tidak mungkin terjadi. Firman Allah SWT dalam surah An Nisa’ : 164.
وَكَلَّمَ
اللهُ مُوسى تَكلِيمًا ﴿النسأ»١٦٤﴾
artinya :”…….Dan Allah berkata
kepada Musa dengan satu perkataan yang jelas.(QS AnNisa’ :164)
Oleh karena itu kita sebagai hamba
Allah SWT hendaknya membiasakan diri mengucapkan kalimat-kalimat tayyibah,
artinya kata-kata yang mulia, seperti ketika kita berbuat salah, maka segeralah
membaca istighfar. Apabila kita menerima nikmat, maka segeralah mengucapkan
hamdalah. Selain itu, kita juga harus membiasakan diri bertutur kata yang lemah
lembut dan sopan santun dengan sesama manusia.
D. Hikmah Beriman Kepada
Allah SWT
Meyakini kepada Allah SWT dengan
sifat-sifat-Nya akan memberikan banyak hikmah diantaranya :
- Meyakini kebesaran Allah SWT
- Meningkatkan rasa syukur
- Selalu menjalankan
perinyah-Nya.
- Selalu berusaha menjauhi dan
meninggalkan larangan-Nya.
- Tidak takut menghadapi kematian
C. Fungsi Iman Kepada Allah SWT
Fungsi iman dalam kehidupan manusia adalah sebagai
pegangan hidup. Orang yang beriman tidak mudah putus asa dan ia akan memiliki
akhlak yang mulia karena berpegang kepada petunjuk Allah SWT yang selalu
menyuruh berbuat baik.
Fungsi iman
kepada Allah SWT akan melahirkan sikap dan kepribadian seperti berikut ini.
- Menyadari
kelemahan dirinya dihadapan Allah Yang Maha Besar sehingga ia tidak mau
bersikap dan berlaku sombong atau takabur serta menghina orang lain
- Menyadari
bahwa segala yang dinimatinya berasal dari Allah yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang. Sikap menyebabkan ia akan menjadi orang yang senantiasa
bersyukur kepada Allah SWT. Ia memanfaatkan segala nikmat Allah SWT sesuai
dengan petunjuk dan kehendak Nya
- Menyadari
bahwa dirinya pasti akan mati dan dimintai pertanggungjawaban tentang
segala amal perbuatan yang dilakukan. Hal ini menyebabkan ia senantiasa
berhati-hati dalam menempuh liku-liku kehidupan di dunia yang fana ini.
- Merasa
bahwa segala tindakannya selalu dilihat oleh Allah yang Maha Mengetahui
dan Maha Melihat. Ia akan berusaha meninggalkan perbuatan yang buruk
karena dalam dirinya sudah tertanam rasa malu berbuat salah. Ia menyadari
bahwa sekalipun tidak ada orang yang melihatnya namun Allah Maha Melihat.
Dalam salah
satu riwayat pernah dikisahkan, pada suatu hari Khalifah Umar bin Khattab
menjumpai seorang anak pengembala kambing. Lalu Khalifah meminta kepada gembala
itu agar mau menjual seekor kambing kepadanya, berapa saja harganya. Namun anak
itu berkata: “Kambing ini bukan milikku melainkan milik majikanku”. Lalu
Khalifah Umar berkata lagi: “Bukankah majikanmu tidak ada disini?” Jawab anak
gemabala tersebut,” Memang benar majikanku tidak disini dan ia tidak
mengetahuinya, tetapi Allah Maha Mengetahui” mendengar jawaban anak itu, Umar
tertegun karena merasa kagum atas kualitas keimanan anak itu, yakni Allah SWT
Maha Melihat dan selalu memperhatikan dirinya, sehingga ia tidak berani berbuat
keburukan, walaupun tidak ada orang lain yang melihatnya.
Sadar dan
segera bertaubat apabila pada suatu ketika karena kekhilafan ia berbuat dosa.
Ia akan segera memohon ampun dan bertaubat kepada Allah SWT dan berjanji tidak
akan mengulangi perbuatan jahat yang dilakukannya, sebagai mana diterangkan
dalam Al Qur’an:
* $pkr'¯»t tûïÏ%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs% ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#ypkà ¬! öqs9ur #n?tã öNä3Å¡àÿRr& Írr& ÈûøïyÏ9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3t $ÏYxî ÷rr& #ZÉ)sù ª!$$sù 4n<÷rr& $yJÍkÍ5 ( xsù (#qãèÎ7Fs? #uqolù;$# br& (#qä9Ï÷ès? 4 bÎ)ur (#ÿ¼âqù=s? ÷rr& (#qàÊÌ÷èè? ¨bÎ*sù ©!$# tb%x. $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #ZÎ6yz ÇÊÌÎÈ
Artinya : “Dan (juga) orang-orang
yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka
ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi
yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan
perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS An Nisa :135)
Fungsi iman kepada Allah SWT akan menumbuhkan sikap
akhlak mulia pada diri seseorang. Ia akan selalu berkata benar, jujur, tidak
sombong dan merasa dirinya lemah dihadapan Allah SWT serta tidak berani
melanggar larangannya karena ia mempunyai iman yang kokoh. Oleh karena itu,
iman memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, yakni sebagai alat yang
paling ampuh untuk membentengi diri dari segala pengaruh dan bujukan yang
menyesatkan. Iman juga sebagai pendorong seseorang untuk melakukan segala amal
shaleh.
LATIHAN
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan tepat dan benar!
1. Sebutkan tiga sifat wajib bagi Allah SWT!
2. Sebutkan tiga sifat mustahil bagi Allah SWT!
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan “asmaul husna”!
4. Jelaskan fungsi iman kepada Allah SWT dalam kehidupan
sehari-hari!
5. Ada berapakah asmaul husna itu? Coba kamu sebutkan
sebanyak-banyaknya!
6. Tunjukkan dalil Aqli tentang wujud Allah SWT!
7. Apa yang dimaksud dengan iman? Jelaskan!
8. Apa yang dimaksud dengan beriman kepada Allah SWT?
9. Apa saja yang menjadi bukti bahwa Allah maha kuasa?
Coba kamu tuliskan!
10. Pantaskah orang yang berilmu tinggi bersikap sombong?
Apa alasannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar